Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Upacara tradisional memandikan Kucing untuk mendatangkan hujan

Iklan 300x250
Ada sebuah festival unik di pulau jawa. Tepatnya di dusun Kopral, desa Sukowilangun, kecamatan Kalipare, kabupaten Malang, Jawa Timur. Kenapa unik? Karena ada ritual untuk mendatangkan hujan yang dilakukan dengan cara memandikan seekor kucing. Anehnya, disaat kucing tersebut kedinginan tiba-tiba langsung turun hujan pada saat itu juga ketika upacara sedang berlangsung.

Ritual unik ini jarang sekali terjadi kecuali hanya dilakukan jika ada kemarau yang terlalu panjang. Upacara ini terakhir kali dilaksanakan pada sekitar tahun 1985/86 ketika waktu itu terjadi kekeringan air sumur.

Ritual memandikan kucing dilakukan di tepi barat dusun kopral, tepatnya di wilayah perairan waduk Ir.Sutami. Acara ini dimulai dengan arak-arakan warga yang memikul kerangkeng berisi seekor kucing dibawa menuju kali. Sesampai di kali, seorang sesepuh warga membaca mantra-mantra jawa serta memasang beberapa sesaji. Lantas kucing dimandikan di dalam kerangkeng sampai kedinginan.

Sang kucing tidak bisa lari karena berada di dalam kerangkeng. Setelah kucing menggigil, lantas diikuti oleh para warga beramai-ramai menjegurkan diri ke kali. Semua orang yang ada disitu ditarik paksa untuk dijegurkan ke kali. Setelah tubuhnya basah maka dia akan mencari orang lain di sekitar yang masih kering untuk ditangkap lalu dijegurkan ke kali.

Sehingga pada akhirnya semua penonton basah semua. Anehnya, pada saat itu juga hujan langsung turun dengan derasnya. Sejak saat itu pula musim kemarau langsung berakhir dan hujan mulai turun setiap hari. Rerumputan mulai menghijau dan semua sumur warga mulai menampakkan air yang jernih.

Semua warga di desa-desa sekitar ikut merasakan hasil dari upacara unik ini. Mereka merasa diuntungkan dengan adanya ritual memandikan seekor kucing. Namun ada satu pihak yang sangat dirugikan. Yaitu kucing yang dimandikan tersebut. Kucing ini seumur hidup tidak pernah mandi karena takut air, namun telah dipaksa mandi sehingga merasakan kedinginan selama berjam-jam. Dasar kucing sial.
Iklan 336x280
______________________________________________________________________

Pencak dor, pencak silat tradisional pendekar Jawa kuno

Iklan 300x250
Dulu sewaktu masih kecil sekitar umur 8 tahun (1980), saya pernah melihat atraksi pencak silat tradisional jawa kuno yang biasa disebut pencak dor. Dinamakan pencak dor karena diiringi irama bedug yang disebut jidor. Pencak dor ini dulu sangat terkenal di jawa timur pada waktu itu. Setiap ada atraksi pencak dor pasti dihadiri oleh para pendekar-pendekar sakti dari berbagai daerah di jawa timur yang memang sengaja diundang.

Pertandingan silat ini tidak memperebutkan piala atau medali apapun, melainkan hanya semata-mata bertujuan untuk melestarikan budaya pencak silat asli jawa serta menjalin kerukunan sesama perguruan pencak dor. Yang menang tidak mendapat hadiah dan yang kalah juga tidak mendapat uang.

Biasanya pertandingan dimulai pada jam 8 malam hari ditengah lapangan. Dua pendekar masuk ke arena diiringi alunan musik tradisional jidor, yaitu bedug yang dipukul-pukul secara berirama. Arena pertandingan dikelilingi oleh para pesilat lain serta ratusan penonton dari berbagai desa.

Sebelum pertandingan dimulai masing-masing pendekar memperagakan jurusnya secara bergantian. Setelah masing-masing memamerkan jurusnya lantas pertandingan di mulai. Pertama, kedua pendekar bertarung dengan bersenjata pedang. Kedua pedang saling berkelebat menyerang lawannya. Benturan kedua pedang ini selalu menimbulkan percikan api di atas awang-awang. Mereka bisa melompat tinggi dan saling menekan dengan kedua pedang, yang satu berada di atas dan satunya lagi berada di bawah. Persis seperti pada film-film laga Indonesia.

Namun sayang, belum ada lima menit kedua pedang pasti hancur terkena remasan tangan-tangan sakti dua pendekar yang berebut pedang. Setelah pedang hancur keduanya berhenti sejenak, lalu masing-masing diberi senjata cambuk yang terbuat dari rotan besar. Lagi-lagi belum ada lima menit kedua campuk hancur terkena remasan tangan-tangan kedua pendekar. Cambuk sekeras itu terlihat seperti kerupuk ketika diremas tangan pendekar yang saling berebut cambuk.

Selanjutnya pertarungan dilanjutkan dengan tangan kosong yang berisi tenaga dalam. Ini adalah saat-saat penentuan siapa pendekar yang lebih unggul. Kedua pendekar saling melempar pukulan mautnya. Namun anehnya pertarungan gaya kuno ini tidak sama dengan pertandingan pencak silat jaman sekarang. Setelah beberapa menit mereka saling menyerang dengan lompatan saktinya, akhirnya mereka berhenti untuk adu kekuatan.

Mereka berdiri tegak, lalu secara bergantian memukul dada lawannya sampai salah satu dari mereka roboh. Jika roboh berarti kalah. Setelah ada yang roboh, maka akan digantikan oleh dengan pendekar lain yang menunggu giliran. Jika pendekar satu ini terlalu kuat, maka lawannya akan ditambah lagi dengan pendekar lain. Bahkan sampai terjadi satu lawan tiga. Pendekar yang paling unggul ini sulit dikalahkan.

Akhirnya pendekar yang paling unggul ini melepas baju hitamnya lalu mempersilakan lawan-lawannya menyabetkan pedang ke tubuhnya. Hasilnya, semua pedang terpental dan tidak ada yang bisa menyentuh kulitnya. Benar-benar fantastis.

Acara ini terus berlangsung hingga lewat tengah malam hingga akhirnya sebagai penutup dilakukan atraksi memamerkan ilmu kebal tingkat tinggi. Sang pendekar tengkurap ditanah lalu ditutup papan berisi ratusan paku tajam, lantas dilintas sepeda motor. Hasilnya, tidak ada satupun paku yang bisa melecetkan tubuh pendekar ini. Akhirnya acarapun berakhir dengan diiringi sorak sorai dan tepuk tangan dari para penonton.

Kebudayaan pencak dor ini saya saksikan di desa kelahiran saya di jawa, tepatnya di Malang selatan, Jawa Timur pada tahun 1980. Namun sayang, kebudayaan tradisional yang langka dan menakjubkan itu kini telah punah karena tidak ada yang meneruskan. Para pendekar jawa kuno yang sering memeriahkan atraksi pencak dor tersebut kini semuanya telah tiada.
Iklan 336x280
______________________________________________________________________